Sekilas Info :
Minggu, 21 Jul 2024
  • Website Resmi Kepolisian Resor Tegal Kota

Kunjungi Pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Ma’alim Kota Tegal, Ini Imbauan Polres Tegal Kota

Diterbitkan : - Kategori : Berita

 

Kota Tegal – Menjelang pelaksanaan Pemilu 2024, Polres Tegal Kota mengajak semua tokoh lintas agama dan tokoh masyarakat, untuk turut menjaga kondusifitas di wilayah Kota Tegal.

Salah satunya dengan menyampaikan pesan-pesan kamtibmas serta menjaga toleransi dan kerukunan umat beragama. Terlebih saat ini sudah memasuki tahapan dalam Pemilu 2024. Karena dalam rangkaian tahapan Pemilu nanti, pasti akan terjadi aktivitas masyarakat yang berpotensi menimbulkan gangguan Kamtibmas.

Hal tersebut di sampaikan oleh Kapolres Tegal Kota melalui Kapolsek Tegal Barat Kompol Aris Heriyanto, pada saat melakukan kunjungan silaturahmi ke Habib Abdullah bin Hasan bin Husen bin Muhammad bin Thohir Al Hadad di Ponpes Bahrul Ma’alim, Kelurahan Kraton, Kota Tegal, Senin (9/10/2023).

Kompol Aris menuturkan, peran tokoh agama dan tokok masyarakat sangatlah penting. Tidak hanya fokus pada nilai-nilai agama, tetapi mereka juga menjadi filter atau penyaring dalam hal informasi yang belum jelas sumbernya.

Pihaknya berharap, kepada para tokoh agama dan tokoh masyarakat untuk ikut serta dalam menjaga Kamtibmas. Sehingga tercipta situasi yang aman dan kondusif menjelang Pemilu 2024.

”Harapan kami, para tokoh agama dan tokoh masyarakat dapat menyampaikan kepada jamaah dan anggotannya agar tidak terpengaruh dengan berita-berita hoax. Apalagi isu SARA yang dapat menimbulkan perpecahan,” tandasnya.

Tugas Polri dan Ulama itu Sama, Amar Ma’ruf  Nahi Munkar

Ditempat yang sama Ketua Pondok Pesantren Bahrul Ma’alim Habib Abdullah mengucapkan terimakasih atas kunjungan silaturahmi dari Polres Tegal Kota. Habib Abdullah mengatakan, tugas dan peran Polri maupun para tokoh agama itu sama. Yakni mengajak atau menganjurkan hal-hal yang baik dan mencegah hal yang buruk bagi masyarakat.

“Tugas ulama dan Polri itu sama, yakni amar ma’ruf nahi mungkar. Yang membedakan hanya pedomannya saja. Polisi berpedoman pada UU dan peraturan pelaksanaanya. Sedangkan para ulama, para da’i berdasarkan Al Qur’an dan Al hadist,” tuturnya.

Habib Abdullah menambahkan, bahwa pihaknya selalu mengingatkan kepada para  jamaahnya. Untuk menerima keberagaman sebagai anugerah. Dan bersikap terbuka terhadap perbedaan itu untuk menata kehidupan berbangsa dan bernegara.

Untuk itu, kita wajib bahu membahu mewujudkan suasana yang kondusif. Apalagi sekarang, kita akan menghadapi pesta demokrasi pada Pemilu 2024.

“Kita semua harus bisa menerima perbedaan. Karena semua itu datangnya dari Alloh SWT. Dan kita juga patut bersyukur sudah hidup di Indonesia. Yang penuh dengan keberagaman dan kebhinekaan namun dapat di satukan oleh Pancasila,” tandasnya.